Kriteria Memilih Pasangan Hidup Menurut Islam 4

Diposting oleh мιѕѕєĻĻƒι pada 16:12, 04-Mar-12 • Di: Fiqh Munakakhah , Tips Islamiy

5. Hendaknya sang wanita jauh
dari kerabat lelaki, karena jika
semakin jauh kekerabatan
maka anaknya kelak semakin
pintar.
Karena jika ia menikahi wanita
dari kerabatnya maka bisa jadi
suatu saat ia menceraikannya dan
akhirnya terputus silaturrahmi
dengan kerabatnya tersebut,
padahal ia diperintahkan untuk
menyambung silaturrahmi.[1]
Berkata Ibnu Hajar, “Adapun
pendapat sebagian penganut
madzhab syafi’iah bahwasanya
disunnahkan agar sang wanita
(calon istri) bukan dari karib
kerabat dekat. Maka jika landasan
pendapat ini adalah hadits maka
sama sekali tidak ada, dan jika
landasannya kepada pengalaman
yaitu kebanyakan anak dari
pasangan suami istri yang dekat
hubungan kekerabatan mereka
berdua adalah anak yang bodoh,
maka bisa dijadikan landasan (jika
memang terbukti pengalaman
tersebut)…”[2]
Penulis Zaadul Mustaqni’ (dari
madzhab Hanabilah) juga
mengisyaratkan akan hal ini
dengan perkataannya,
“Disunnahkan menikahi…wanita
yang taat beragama, ajanabiah
(jauh dari kerabat), …”
Syaikh Bin Baaz mengomentari
perkataan ini, “Ini adalah
perkataan yang keliru, meskipun
mereka mengatakan demikian…
yang menjadi patokan dalam
menikahi wanita yang masih ada
hubungan kerabat adalah
perkara-perkara yang dituntut
kecuali ada penghalang syar’i
yang melarang”[3]
Berkata Syaikh Utsaimin, “Selama
perkaranya tidak ada dalil syar’i
yang wajib untuk diambil maka
seseorang hendaknya menjejaki
kemaslahatan-kemaslahatan (yang
mungkin diperoleh) dalam hal
ini”[4]
Adapun hadits
ﻻَ ﺗَﻨْﻜِﺤُﻮﺍ ﺍﻟْﻘَﺮَﺍﺑَﺔَ ﺍﻟْﻘَﺮِﻳْﺒَﺔَ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْﻮَﻟَﺪَ ﻳُﺨْﻠَﻖُ
ﺿَﺎﻭِﻳًﺎ
“Janganlah kalian menikah
dengan kerabat yang dekat
(nasabnya) karena sang anak
akan lahir dalam keadaan
lemah”[5]
Berkata Ibnu As-Solah
mengomentari hadits ini, “Aku
tidak menemukan bagi hadits ini
asal yang bisa dijadikan
pegangan”[6]
6. Hendaknya wanita tersebut
berasal dari keluarga baik-baik
dan dikenal dengan sifat
qona’ah, karena rumah yang
demikian biasanya merupakan
tempat tumbuh wanita yang
baik dan qona’ah.[7]
Kondisi yang baik dari keluarga
pihak wanita (mertua) cukup
memiliki pengaruh yang besar
terhadap perkembangan akhlak
sang wanita, dan bisa jadi
merupkan tolak ukur akhlak
seorang wanita. Wanita yang
tumbuh di keluarga yang dikenal
taat beragama maka biasanya
iapun akan mewarisi sifat tersebut
–meskipun hal ini bukanlah
kelaziman-.
Mertua yang taat beragama
biasanya memahami kondisi
seorang suami sholeh dan
pengertian terhadapnya. Kondisi
seperti ini menjadikan sang suami
mudah untuk berkomunikasi
dengan mertua dan ringan
baginya untuk mengutarakan
unek-uneknya yang berkaitan
dengan lika-liku kehidupan rumah
tangganya. Jika keadaannya
demikian maka sangatlah
mendukung diraihnya
kebahagiaan yang diharapkan
sang suami. Betapa banyak
permasalahan rumah tangga
suami istri yang bisa terselesaikan
karena campur tangan keluarga
istrinya yang mengenal agama.
Sebaliknya betapa banyak
permasalahan suami istri yang
timbul disebabkan karena campur
tangan keluarga istri yang kurang
mengenal agama, bahkan tidak
jarang sampai pada tahapan
perceraian.
Kemudian jika sang wanita
meskipun merupakan wanita yang
shalihah namun jika ia tumbuh di
keluarga yang tidak dikenal
dengan sifat qona’ah (nerima dan
bersyukur dengan apa yang
diberikan oleh Allah walaupun
sedikit) maka bisa jadi ia memiliki
sifat yang royal dalam mengatur
keuangan suaminya, dan ini
adalah musibah tersendiri bagi
suami.
Namun wanita yang shalihah yang
tumbuh di keluarga yang qona’ah
di zaman ini mungkin agak sulit
dicari. Karenanya jika ia tidak
menemukan wanita yang
demikian sifatnya maka tidak
mengapa ia memilih wanita yang
shalihah meskipun ia berasal dari
keluarga yang boros, karena bisa
jadi wanita tersebut menyelisihi
sifat keluarganya yang boros
Peringatan
Merupakan harapan semua
pemuda jika mereka
mendapatkan seorang wanita
yang shalihah dan juga wali sang
wanita (seperti ayahnya atau
pamannya) yang juga sholeh.
Namun merupakan permasalahan
yang sering dihadapi oleh
sebagian para pemuda adalah jika
ia telah terpikat dengan salah
seorang wanita yang sholihah,
kemudian sang wanita juga telah
terpikat dengannya, namun
ternyata ayah sang wanita tidak
setuju dan menolak lamaran sang
lelaki dengan alasan yang tidak
diterima oleh syari’at. Misalnya
karena sang lelaki kurang kaya…,
atau karena sang lelaki
penampilannya terlalu fanatik…,
dan alasan-alasan yang lainnya.
Yang menjadi pertanyaan apakah
perwalian sang ayah berpindah
kepada wali lain yang terdekat
kepada sang wanita??
Marilah kita simak penjelasan
Syaikh Utsaimin tatkala beliau
ditanya dengan pertanyaan yang
semisal ini.
Beliau ditanya, “Apakah perwalian
seorang putri berpindah dari
tangan ayah ke anak laki-lakinya
(saudara laki-laki sang putri) jika
sang ayah tidak serius memilihkan
suami yang sholeh. Jika datang
seseorang yang melamar sang
putri maka sang ayah tidak
memberi perhatian kepada orang
tersebut dan tidak bertanya
tentang orang tersebut, atau sang
ayah menjelek-jelekan putrinya
tersebut dihadapan sang pelamar
agar mencegah putrinya untuk
menikah.”
Syaikh Utsaimin berkata,
((Sesungguhnya wali seorang
wanita baik ayah, atau saudara
laki-laki, atau paman akan
dimintai pertanggungjawaban
kelak di hadapan Allah pada hari
kiamat. Wajib bagi sang wali untuk
menunaikan amanah ini, maka
jika ada seseorang yang taat
beragama dan berakhlak mulia
dan sang wanita ridho dengan
pria tersebut maka wajib bagi
sang wali untuk menikahinya.
Tidak boleh sang wali
mengakhirkan pernikahan sang
wanita karena hal itu adalah
menyelisihi amanah (yang
diembankan Allah kepadanya-
pen).Bahkan hal ini merupakan
khianat. Allah berfirman
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍْ ﻻَ ﺗَﺨُﻮﻧُﻮﺍْ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻭَﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ
ﻭَﺗَﺨُﻮﻧُﻮﺍْ ﺃَﻣَﺎﻧَﺎﺗِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ َﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍْ ﺃَﻧَّﻤَﺎ
ﺃَﻣْﻮَﺍﻟُﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻭْﻻَﺩُﻛُﻢْ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﻭَﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻋِﻨﺪَﻩُ ﺃَﺟْﺮٌ
ﻋَﻈِﻴﻢٌ
Hai orang-orang beriman,
janganlah kamu,mengkhianati
Allah dan Rasul (Muhammad) dan
juga janganlah kamu
mengkhianati amanat-amanat
yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui. Dan
ketahuilah, bahwa hartamu dan
anak-anakmu itu hanya sebagai
cobaan dan sesungguhnya di sisi
Allah-lah pahala yang besar. (QS.
8:27-28)
Maka wajib bagi seseorang -yang
telah Allah jadikan dia sebagai
wali seorang wanita- jika ada
seorang lelaki yang taat beragama
dan berakhlak mulia maju
melamar sang wanita untuk
segera menikahkannya jika sang
wanita ridho dengan pria
tersebut.
Hendaknya dia mengetahui
bahwasanya wanita itu juga
memiliki dan merasakan syahwat
sebagaimana yang dirasakannya.
Dan saya tidak tahu, jika ada
seseorang melarangnya (melarang
wali sang wanita) untuk menikah
padahal dia adalah seorang
pemuda yang memiliki syahwat,
maka saya tidak tahu apakah ia
akan menganggap orang yang
melarangnya ini telah berbuat
dzolim kepadanya atau tidak??.
Saya yakin ia akan berkata,
“Orang ini telah berbuat dzolim
kepadaku”. Jika ia mengucapkan
hal ini terhadap orang yang
melarangnya untuk menikah
maka bagaimana ia mensikapi
wanita yang lemah ini yang tidak
mampu untuk menikahkan dirinya
sendiri (dengan melarangnya
menikah)??. Dan tidak mungkin
kerabat sang wanita yang lain
menikahkan sang wanita padahal
masih ada wali yang terdekat.
Terlalu banyak wanita yang
akhirnya mencapai usia tua dan
tidak menikah disebabkan
perbuatan para wali yang dzolim.
Telah diceritakan kepadaku
tentang seorang wanita muda
yang ayahnya melarang para
pelamar yang datang untuk
menikahi wanita tersebut, maka
akhirnya sang wanitapun sedih
dan sakit. Hingga parah dan
tatkala ia akan meninggal dan
telah datang kepadanya sakaratul
maut maka iapun berkata kepada
para wanita yang ada disekitarnya,
“Sampaikanlah salam kepada
ayahku dan katakanlah
kepadanya bahwa aku akan
mempermasalahkan hal ini
dihadapan Allah pada hari
kiamat”. Yaitu dia akan menuntut
ayahnya di hadapan Allah atas
perbuatan ayahnya yang telah
melarang para pelamar untuk
menikahinya, dan bisa jadi sebab
kematiannya adalah karena hal ini
juga.
Karena itu kami katakan bahwa
barangsiapa yang melarang
seorang wanita (yang dibawah
perwaliannya) untuk menikah
dengan seorang lelaki yang
sekufu’ dengannya dan telah
diridhoi oleh sang wanita, maka
boleh bagi sang wanita untuk
menuntut hal ini kepada hakim.
Dan wajib bagi hakim untuk
memenuhi permintaan sang
wanita untuk menikahkannya
dengan lelaki yang telah
diridhoinya. Bisa dengan
mewakilkan pernikahan tersebut
kepada wali sang wanita yang
terdekat setelah wali yang
melarang pernikahan sang wanita,
atau ia bertindak dengan tindakan
yang menurutnya sesuai dengan
syari’at.
Akan tetapi terkadang sang
wanita tidak mampu untuk
mengangkat permasalahannya ke
hadapan hakim karena malu, atau
karena takut menyelisihi adat
yang berlaku, atau karena hal-hal
yang semisalnya. Jika saat itu tidak
ada yang tersisa kecuali
kemarahan Allah yang sangat
keras siksaannya. Maka
hendaknya sang wali takut
kepada Allah dan hendaknya ia
bertakwa kepada Robnya.
Dan aku katakan sebagaimana
perkataan para ulama –semoga
Allah merahmati mereka-
sesungguhnya seorang wali jika
berulang-ulang menolak para
pelamar yang datang maka ia
menjadi seorang yang fasik, hilang
‘adaalah-nya dan tidak bisa
menjalankan segala amalan yang
disyaratkan ada ‘adaalah dalam
amal tersebut. Kemudian
perwaliannya berpindah darinya
kepada wali yang setelahnya.))[8]
7. Hendaknya wanita tersebut
cerdas
Berkata Ibnu Qudamah,
“Hendaknya ia memilih wanita
yang pandai dan menjauhi wanita
yang bodoh (telat mikir) karena
nikah itu tujuannya untuk tumbuh
pergaulan dan kedekatan antara
dua sejoli dan pergaulan itu tidak
mantap jika dengan wanita yang
bodoh, serta perjalanan hidup jadi
kurang indah jika bersama
dengan wanita yang bodoh.
Bahkan bisa jadi kebodohan
wanita itu menular ke anak-
anaknya. Dikatakan
ﺍِﺟْﺘَﻨِﺒُﻮْﺍ ﺍﻟْﺤَﻤْﻘَﺎﺀَ ﻓَﺈِﻥَّ ﻭَﻟَﺪَﻫَﺎ ﺿَﻴَﺎﻉٌ ﻭَﺻُﺤْﺒَﺘُﻬَﺎ
ﺑَﻼَﺀٌ
Hindarilah wanita yang bodoh
karena anaknya sia-sia dan
bergaul dengannya adalah
bencana”[9]
8. Jika sang pria bernasab tinggi
maka hendaknya ia mencari
wanita yang nasabnya tinggi
juga.[10]
Berkata Ibnu Hajar, “Dan
disunnahkan bagi pria yang
berasal dari nasab yang tinggi
untuk menikahi wanita yang
bernasab yang tinggi pula, kecuali
jika bertentangan antara wanita
yang memiliki nasab yang tinggi
namun tidak beragama baik
dengan wanita yang tidak
bernasab tinggi namun memiliki
agama yang baik maka
didahulukan wanita yang
beragama, demikian juga pada
seluruh sifat-sifat yang lain (jika
bertentangan dengan agama yang
baik maka didahulukan sifat
ini)”[11]
Setelah menelaah sifat-sifat di atas
maka hendaknya seorang yang
sedang berkelana mencari
belahan jiwanya agar berusaha
menerapkan sifat-sifat tersebut
kepada calon istrinya sebelum ia
melangkah lebih lanjut melamar
sang wanita, semakin banyak sifat-
sifat tersebut pada seorang wanita
maka semakin baiklah wanita
tersebut. Namun ingatlah
bahwasanya mencari wanita yang
bernilai sembilan koma lima yang
memenuhi seluruh sifat-sifat
tersebut adalah sesuatu yang
sangat sulit sekali bahkan hampir-
hampir merupakan perkara yang
mustahil apalagi di zaman kita
sekarang ini, namun bukan berarti
tidak ada. Sungguh beruntung
orang yang bisa menemukan
bidadari dunia sebelum bertemu
dengan bidadari akhirat. Yang
sering kita jumpai adalah wanita
yang memiliki sebagian sifat-sifat
tersebut namun ia tidak memiliki
sifat yang lain. Contohnya banyak
wanita yang cantik namun
ternyata tidak pintar, banyak yang
wanita yang shalihah namun
ternyata tidak cantik, ada wanita
yang shalihah yang berakhlak
mulia, cantik, kaya, sejuk jika
dipandang, pintar, namun…
mandul, dan demikianlah
kebanyakan wanita dunia tidak
bisa mengumpulkan sifat-sifat di
atas seluruhnya. Namun perlu
diingat tentunya setiap sifat-sifat
tersebut tidak bernilai sama, sifat
yang pertama yaitu keshalihan
sang wanita memiliki porsi yang
sangat tinggi dibandingkan sifat-
sifat yang lainnya. Demikian pula
kecantikan tentunya lebih
diutamakan daripada nasab dan
harta. Jika seseorang dihadapkan
dengan pilihan antara wanita yang
cantik namun kurang baik
agamanya dengan wanita yang
baik agamanya namun kurang
cantik, maka siapakah yang
dipilihnya??[12]
Jika bertentangan sifat-sifat
tersebut maka yang lebih
diutamakan adalah wanita yang
shalihah, sebagaimana dalam
riwayat yang lain (dari hadits Jabir)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallamberkata kepadanya
ﻓََﻌَﻠَﻴْﻚَ ﺑِﺬَﺍﺕِ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ
“Wajib bagimu untuk memilih
wanita yang shalihah”[13]
Berkata Ibnu Hajar, “Sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
“karena kecantikannya”
merupakan dalil akan
mustahabnya menikahi wanita
yang jelita, kecuali jika berlawanan
antara wanita yang cantik jelita
namun tidak shalihah dengan
wanita yang shalihah namun tidak
cantik jelita (maka diutamakan
yang shalihah meskipun tidak
cantik). Jika keduanya sama dalam
keshalihan maka yang cantik jelita
lebih utama (untuk dinikahi)
…”[14]
Dari Abdullah bin ‘Amr bin
Al-‘Ash bahwasanya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻛُﻠَّﻬَﺎ ﻣَﺘَﺎﻉٌ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﻣَﺘَﺎﻉِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ
ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔُ
“Sesungguhnya dunia seluruhnya
adalah barang dan sebaik-baik
barang adalah wanita yang
shalihah”[15]
Dari Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhu bahwasanya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻣَﺘَﺎﻉٌ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻦْ ﻣَﺘَﺎﻉِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺷَﻲْﺀٌ
ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔِ
“Sesungguhnya dunia adalah
mataa’ (barang) dan tidak ada
barang di dunia ini yang lebih baik
dari wanita yang shalihah” [16]
ﻋَﻦْ ﺛَﻮْﺑَﺎﻥَ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻤَّﺎ ﻧَﺰَﻝَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻔِﻀَّﺔِ ﻭَﺍﻟﺬَّﻫَﺐِ
ﻣَﺎ ﻧَﺰَﻝَ ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻓَﺄَﻱُّ ﺍﻟْﻤَﺎﻝِ ﻧَﺘَّﺨِﺬُ؟ ﻗَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ
ﻓَﺄَﻧَﺎ ﺃُﻋْﻠِﻢُ ﻟَﻜُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄَﻭْﺿَﻊَ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻌِﻴْﺮِﻩِ
ﻓَﺄَﺩْﺭَﻙَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ r ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻓِﻲ ﺃَﺛَﺮِﻩِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ
ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻱُّ ﺍﻟْﻤَﺎﻝِ ﻧَﺘَّﺨِﺬُ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟِﻴَﺘَّﺨِﺬْ
ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻗَﻠْﺒًﺎ ﺷَﺎﻛِﺮًﺍ ﻭَﻟِﺴَﺎﻧًﺎ ﺫَﺍﻛِﺮًﺍ ﻭَﺯَﻭْﺟَﺔً
ﻣُﺆْﻣِﻨَﺔً ﺗُﻌِﻴْﻦُ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ
Dari Tsauban, tatkala turun
firman Allah tentang perak dan
emas (yaitu firman Allah ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ
ﻳَﻜْﻨِﺰُﻭْﻥَ ﺍﻟﺬَّﻫَﺐَ ﻭَﺍﻟْﻔِﻀَّﺔَ ﺛُﻢَّ ﻻَ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮْﻧَﻬَﺎ ...
Adapun orang-orang yang
menyimpan emas dan perak dan
tidak menafkahkannya…) (QS 9:
34), mereka (para sahabat)
berkata, “Harta apa yang
mestinya kita miliki?”, Umar
radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku
akan mengabarkan kalian kepada
kalian”, lalu beliau mempercepat
ontanya hingga bertemu dengan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan aku (Tsauban) menyusulnya.
Umar berkata kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Wahai Rasulullah, harta apakah
yang mestinya kita miliki?”,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, “Hendaknya
yang kalian cari sebagai harta
adalah hati yang selalu bersyukur,
lisan yang selalu berdzikir, dan
istri yang shalihah yang
membantu kalian untuk meraih
akhirat”[17]
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺃُﻣَﺎﻣَﺔَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻﻠﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ
ﺳﺒﻢ ﺃَﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻘُﻮْﻝُ ﻣﺎَ ﺍﺳْﺘَﻔَﺎﺩَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ ﺑَﻌْﺪَ
ﺗَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠﻪِ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺔٍ ﺻَﺎﻟِﺤَﺔٍ ﺇِﻥْ
ﺃَﻣَﺮَﻫَﺎ ﺃَﻃَﺎﻋَﺘْﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﻧَﻈَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺳَﺮَّﺗُْﻪ ﻭَﺇِﻥْ
ﺃَﻗْﺴَﻢَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺃَﺑَﺮَّﺗْﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﻏَﺎﺏَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻧَﺼَﺤَـﺘْﻪُ
ﻓِﻲ ﻧَﻔْﺴِﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎﻟِﻪِ
Dari Abu Umamah bahwasanya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah bersabda, “Tidaklah
seorang mukmin memperoleh
sasuatu kebaikan –setelah
memperoleh ketakwaan kepada
Allah[18]- melebihi istri yang
shalihah, jika ia memerintahnya
maka iapun taat, jika ia
memandangnya maka
menyenangkannya, jika ia
bersumpah agar ia melakukan
sesaatu maka ia melaksanakan
sumpahnya, dan jika ia sedang
tidak di rumah maka ia (sang istri)
menjaga dirinya (untuk tidak
melakukan hal-hal yang nista)
dan menjaga hartanya (harta
suaminya)” [19]
Dan merupakan musibah jika
seseorang tetap nekat memilih
wanita yang cantik jelita padahal
ia telah mengetahui bahwa wanita
tersebut agamanya dan akhlaknya
tidak baik.
Berkata At-Thibi,
ﻭَﻗُﻴِّﺪَ ﺑِﺎﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔِ ﺇِﻳْﺬَﺍﻧًﺎ ﺑِﺄَﻧَﻬَﺎ ﺷَﺮُّ ﺍﻟْﻤَﺘَﺎﻉِ ﻟَﻮْ ﻟَﻢْ
ﺗَﻜُﻦْ ﺻَﺎﻟِﺤَﺔً
“Dikhususkan pada wanita yang
shalihah sebagai pemberitahuan
bahwa wanita adalah sejelek-jelek
barang yang ada di dunia ini jika
ia tidak shalihah” [20]
Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh
radhiyallahu ‘anhu bahwasanya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda
ﺃَﺭْﺑَﻊٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻌَﺎﺩَﺓِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔُ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴْﻜَﻦُ
ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻊُ ﻭَﺍﻟْﺠَﺎﺭُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢُ ﻭَﺍﻟْﻤَﺮْﻛَﺐُ ﺍﻟْﻬَﻨِﻲْﺀُ
ﻭَﺃَﺭْﺑَﻊٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻘَﺎﻭَﺓِ ﺍﻟْﺠَﺎﺭُ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀُ ﻭَﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ
ﺍﻟﺴُّﻮْﺀُ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴْﻜَﻦُ ﺍﻟﻀَّـﻴِّﻖُ ﻭَﺍﻟْﻤَﺮْﻛَﺐُ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀُ
“Empat perkara yang merupakan
kebahagiaan(yaitu) istri yang
shalihah, rumah yang luas,
tetangga yang baik, dan
kendaraan yang enak dinaiki, dan
empat perkara yang merupakan
kesengsaraan adalah tetangga
yang jelek, istri yang buruk
akhlaknya, rumah yang sempit,
dan kendaraan yang tidak enak
dinaiki” [21]
Sesungguhnya wanita yang
sholihah dialah yang akan
menunaikan kewajiban-
kewajibannya dengan sesempurna
mungkin baik kewajiban yang
berkaitan dengan suaminya, anak-
anaknya, keluarga suaminya, dan
juga tetangganya. Dialah yang
akan berusaha sekuat mungkin
karena keimanannya untuk
menjadikan engkau ridho
kepadanya, karena itulah cita-cita
dan tujuan hidupnya.
Dialah yang paham dengan sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
ﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺖُ ﺁﻣِﺮًﺍ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺠُﺪَ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﻟَﺄَﻣَﺮْﺕُ
ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓَ ﺃَﻥْ ﺗَﺴْﺠُﺪَ ﻟِﺰَﻭْﺟِﻬَﺎ
“Kalau seandainya aku (boleh)
memerintahkan seseorang untuk
sujud kepada seorang yang lain
maka akan aku perintahkan
seorang wanita untuk sujud
kepada suaminya”[22]
Oleh karena itu wahai saudaraku
janganlah engkau sampai
terpedaya dengan keelokan
tubuh, keranuman wajah, serta
kata-kata manis…ketahuilah dan
yakinlah bahwa wanita yang
shalihah dialah yang
memungkinkan untuk menjadikan
rumahnya sebagai surga duniamu
yang dipenuhi dengan kasih
sayang dan kebahagiaan…
Peringatan
Berkata Syaikh Utsaimin, “Ada
orang yang hatinya benar-benar
terikat dengan kecantikan, tidak
akan tentram hatinya jika
dipilihkan baginya wanita yang
sangat taat beragama namun
kurang cantik. Maka apakah kita
katakan hendaknya ia memaksa
dirinya untuk memilih wanita
tersebut meskipun hatinya tidak
tentram dan tidak memilih wanita
yang kurang taat namun cantik
jelita??, ataukah kita katakan
nikahilah wanita yang
menentramkan hatimu (yang
cantik jelita) yang penting ia tidak
sampai derajat wanita yang fajir
atau wanita yang fasiq??
Jawabannya, Yang lebih nampak
(kebenarannya) adalah jawaban
yang kedua kecuali jika wanita
tersebut tidak taat dan fasiq serta
fajir, karena wanita seperti ini
tidak layak untuk ia nikahi”[23]
Renungan
Hendaknya seseorang yang ingin
mencari istri membenarkan
niatnya, bahwa niatnya ingin
menikah adalah bukan sekedar
untuk bersenang-senang dengan
wanita yang cantik namun niat
utamanya adalah untuk
beribadah dan menjaga dirinya
agar tidak terjatuh pada hal-hal
yang diharamkan oleh Allah.
Dengan niat yang baik maka Allah
akan memudahkannya
mewujudkan apa yang ia
harapkan. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﺣَﻖٌّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﻮْﻧُﻬُﻢْ ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺪُ ﻓِﻲ
ﺳَﺒِﻴْﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻜَﺎﺗِﺐُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﺮِﻳْﺪُ ﺍﻟْﺄَﺩَﺍﺀَ
ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﻛِﺢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﺮِﻳْﺪُ ﺍﻟْﻌَﻔَﺎﻑَ
Tiga golongan yang pasti Allah
menolong mereka, orang yang
berjihad di jalan Allah, budak
yang ingin membebaskan dirinya,
dan orang yang menikah karena
ingin menjaga dirinya (dari
berbuat kenistaan).[24]
Allah berfirman,
ﻭَﺃَﻧْﻜِﺤُﻮْﺍ ﺍﻷَﻳَﺎﻣَﻰ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻣِﻦْ
ﻋِﺒَﺎﺩِﻛُﻢْ ﻭَﺇِﻣَﺎﺋِﻜُﻢْ ﺇِﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻧُﻮْﺍ ﻓُﻘَﺮَﺍﺀَ ﻳُﻐْﻨِﻬُﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻠِﻪِ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﺳِﻊٌ ﻋَﻠِﻴْﻢٌ
Dan kawinkanlah orang-orang
yang sendirian di antara kamu,
dan orang-orang yang patut
(kawin) dari hamba-hamba
sahayamu yang perempuan. Jika
mereka miskin Allah akan
memampukan mereka dengan
kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya) lagi Maha
Mengetahui. (QS. 24:32)
Semakin besar niat seseorang
bahwa ia menikah adalah untuk
beribadah kepada Allah, untuk
menerapkan sunnah-sunnah Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam[25]
maka pahala yang diperolehnya
semakin besar, dan Allah akan
semakin membantunya mencapai
kebahagiaan. Perkaranya kembali
kepada niat yang benar,
seseorang bisa saja mengandalkan
usaha yang ia lakukan, namun
taufik hanyalah di tangan Allah,
barangsiapa yang niatnya benar
maka Allah akan memberi taufik
kepadanya untuk memilih istri
yang shalihah.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﻣَﻦْ ﺗَﺰَﻭَّﺝَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﺑِﻌِﺰِّﻫَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺰِﺩْﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺇِﻻَّ ﺫُﻻًّ
ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺰَﻭَّﺟَﻬَﺎ ﻟِﻤَﺎﻟِﻬَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺰِﺩْﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺇِﻻَّ ﻓَﻘْﺮًﺍ
ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺰَﻭَّﺟَﻬَﺎ ﻟِﺤَﺴَﺒِﻬَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺰِﺩْﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺇِﻻَّ ﺩَﻧَﺎﺀَﺓً
ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺰَﻭَﺝَّ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻟَﻢْ ﻳَﺘَﺰَﻭَّﺟْﻬَﺎ ﺇِﻻَّ ﻟِﻴَﻐُﺾَّ
ﺑَﺼَﺮَﻩُ ﺃَﻭْ ﻟِﻴَﺤْﺼُﻦَ ﻓَﺮْﺟَﻪُ ﺃَﻭْ ﻳَﺼِﻞَ ﺭَﺣِﻤَﻪُ
ﺑَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻟَﻬَﺎ ﻓِﻴْﻪِ
“Barangsiapa yang menikahi
wanita karena pamornya maka
Allah tidak akan menambahkan
kepadanya kecuali kehinaan,
barangsiapa yang menikahi wanita
karena menginginkan hartanya
maka Allah tidak akan menambah
baginya kecuali kemiskinan,
barangsiapa yang menikahi wanita
karena kedudukannya maka Allah
tidak akan menambah baginya
kecuali kerndahan, dan
barangsiapa yang menikahi wanita
agar bisa menjaga pandangannya
atau untuk menjaga kemaluannya
atau untuk menyambung
silaturrahmi maka Allah akan
memberikan barokah baginya
pada istrinya dan memberikan
barokah bagi istrinya
padanya”[26]
Kisah menarik yang dialami oleh
Muhaddits terkenal Sufyan bin
‘Uyainah semoga menjadi bahan
renungan bagi para pencari istri.
ﻗَﺎﻝَ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦُ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺍﻟﻨﻴﺴﺎﺑﻮﺭﻱ ﻛُﻨْﺖُ ﻋِﻨْﺪَ
ﺳُﻔْﻴَﺎﻥَ ﺑْﻦِ ﻋُﻴَﻴْﻨَﺔَ ﺇِﺫْ ﺟَﺎﺀَﻩُ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ
ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺃَﺷْﻜُﻮْ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣِﻦْ ﻓُﻼَﻧَﺔٍ ﻳَﻌْﻨِﻲ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗَﻪُ.
ﺃَﻧَﺎ ﺃَﺫَﻝُّ ﺍﻷَﺷْﻴَﺎﺀِ ﻋِﻨْﺪَﻫَﺎ ﻭَﺃَﺣْﻘَﺮُﻫَﺎ ﻓَﺄَﻃْﺮَﻕَ
ﺳُﻔْﻴَﺎﻥُ ﻣَﻠِﻴًّﺎ ﺛُﻢَّ ﺭَﻓَﻊَ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻌَﻠَّﻚَ
ﺭَﻏِﺒْﺖَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻟِﺘَﺰْﺩَﺍﺩَ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻋِﺰًﺍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻧَﻌَﻢْ ﻳَﺎ
ﺃﺑَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ. ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﺫَﻫَﺐَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻌِﺰِّ ﺍﺑﺘُﻠِﻲَ
ﺑِﺎﻟﺬُّﻝِّ ﻭَﻣَﻦْ ﺫَﻫَﺐَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﻝِ ﺍﺑْﺘُﻠِﻲَ ﺑﺎِﻟْﻔَﻘْﺮِ
ﻭَﻣَﻦْ ﺫَﻫَﺐَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﻳَﺠْﻤَﻊُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻌِﺰَّ
ﻭَﺍﻟﻤْﺎَﻝَ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ
ﺛُﻢَّ ﺃَﻧْﺸَﺄَ ﻳُﺤَﺪِّﺛُﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻛُﻨَّﺎ ﺇِﺧْﻮَﺓً ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔً ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ
ﻭَﻋِﻤْﺮَﺍﻥُ ﻭَﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢُ ﻭَﺃﻧَﺎ، ﻓَﻤُﺤَﻤَّﺪٌ ﺃَﻛْﺒَﺮُﻧَﺎ
ﻭَﻋِﻤْﺮَﺍﻥُ ﺃَﺻْﻐَﺮُﻧَﺎ ﻭَﻛُﻨْﺖُ ﺃَﻭْﺳَﻄَﻬُﻢْ. ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺃَﺭَﺍﺩَ
ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﺰَﻭَّﺝَ ﺭَﻏِﺐَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺴَﺐِ ﻓَﺘَﺰَﻭَّﺝَ
ﻣَﻦْ ﻫِﻲَ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻣِﻨْﻪُ ﺣَﺴَﺒًﺎ ﻓَﺎﺑْﺘَﻼَﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﺎﻟﺬُّﻝِّ
ﻭَﻋِﻤْﺮَﺍﻥُ ﺭَﻏِﺐَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺎﻝِ ﻓَﺘَﺰَﻭَّﺝَ ﻣَﻦْ ﻫِﻲَ
ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻣَﺎﻻً ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺎﺑْﺘَﻼَﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﺎﻟْﻔَﻘْﺮِ ﺃَﺧَﺬُﻭْﺍ ﻣَﺎ
ﻓِﻲ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻄُﻮْﻩُ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻓَﻨَﻘَّﺒْﺖُ ﻓِﻲ
ﺃَﻣْﺮِﻫِﻤَﺎ ﻓَﻘَﺪِﻡَ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻣَﻌْﻤَﺮُ ﺑْﻦُ ﺭَﺍﺷِﺪٍ ﻓَﺸَﺎﻭَﺭْﺗُﻪُ
ﻭَﻗَﺼَﺼْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻗِﺼَّﺔَ ﺃَﺧَﻮَﻱَّ ﻓَﺬَﻛَّﺮَﻧِﻲ ﺣَﺪِﻳْﺚَ
ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦِ ﺟَﻌْﺪَﺓ ﻭَﺣَﺪِﻳْﺚَ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻓَﺄَﻣَّﺎ
ﺣَﺪِﻳْﺚُ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦِ ﺟَﻌْﺪَﺓَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﺒﻢ ﺗُﻨْﻜَﺢُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺭْﺑَﻊٍ
ﺩِﻳْﻨِﻬَﺎ ﻭَﺣَﺴَﺒِﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎﻟِﻬَﺎ ﻭَﺟَﻤَﺎﻟِﻬﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻚَ ﺑَﺬَﺍﺕِ
ﺍﻟﺪَّﻳْﻦِ ﺗَﺮِﺑَﺖْ ﻳَﺪَﺍﻙَ، ﻭَﺣَﺪِﻳْﺚُ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺃَﻥَّ
ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻﻠﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﺒﻢ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻋْﻈَﻢُ
ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀَ ﺑَﺮَﻛَﺔً ﺃَﻳْﺴَﺮُﻫُﻦَّ ﻣُﺆْﻧَﺔً.
ﻓَﺎﺧْﺘَﺮْﺕُ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦَ ﻭَﺗَﺨْﻔِﻴْﻒَ ﺍﻟﻈَّﻬْﺮِ
ﺍﻗْﺘِﺪَﺍﺀً ﺑِﺴُﻨَّﺔِ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ
ﺳﺒﻢ ﻓَﺠَﻤَﻊَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟِﻲَ ﺍﻟْﻌِﺰَّ ﻭَﺍﻟْﻤَﺎﻝَ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ
Berkata Yahya bin Yahya An-
Naisaburi ia berkata, “Aku duduk
bersama Sufyan bin ‘Uyaiynah,
lalu datanglah kepadanya seorang
pria lalu berkata, “Wahai Abu
Muhammad (kunyahnya) aku
mengeluh kepadamu tentang si
fulanah (yaitu istrinya), aku adalah
sesuatu yang paling rendah dan
yang paling hina di mata istriku”.
Sufyanpun menundukkan
kepalanya sesaat kemudian ia
mengangkat kepalanya seraya
berkata, “Mungkin engkau dahulu
menikah dengannya karena
engkau ingin derajat dan
martabatmu naik?”, pria itu
berkata, “Benar wahai Abu
Muhammad”. Sufyan berkata,
“Barangsiapa yang (menikah)
karena menginginkan martabat
maka ia ditimpa dengan
kerendahan dan kehinaan,
barangsiapa yang menghendaki
harta maka akan ditimpa dengan
kemiskinan dan barangsiapa yang
menghendaki agama maka Allah
akan mengumpulkan mertabat
dan harta bersama dengan
agama”. Kemudian Sufyanpun
bercerita kepadanya, ia berkata,
“Kami empat bersaudara yaitu
Muhammad, Imran, Ibrahim, dan
saya. Muhammad adalah yang
tertua diantara kami dan Imran
adalah yang paling muda diantara
kami, adapun aku adalah anak
yang tengah. Tatkala Muhammad
ingin menikah maka ia ingin
mencari pamor dan martabat, lalu
iapun menikahi wanita yang lebih
tinggi martabatnya daripada dia,
maka Allah menimpakan
kepadanya kerendahan, Imran
menghendaki harta lalu ia
menikahi dengan wanita yang
lebih kaya darinya maka Allah
menimpakan kemiskinan
kepadanya, mereka (keluarga
istrinya) mengambil harta Imran
dan mereka sama sekali tidak
memberikan sesuatupun
kepadanya. Akupun meneliti
kejadian mereka berdua, lalu
datang di negeri kami Ma’mar bin
Rasyid lalu akupun
bermusyawarah dengannya, aku
ceritakan kepadanya tentang
kejadian yang dialami oleh dua
saudaraku lalu iapun
mengingatkan aku pada suatu
hadits Yahya bin Ja’dah dan hadits
‘Aisyah. Adapun hadits Yahya bin
Ja’dah “Wanita dinikahi karena
empat perkara, karena hartanya,
karena martabatnya, karena
kecantikannya, karena agamanya,
maka hendaklah engkau
mendapatkan wanita yang baik
agamanya (jika tidak kau lakukan)
maka tanganmu akan menempel
dengan tanah”, dan hadits Aisyah
bahwasanya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, ﺃََﻋْﻈَﻢُ
ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺑَﺮَﻛَﺔً ﺃﻳْﺴَﺮُﻫُﻦَّ ﻣُﺆْﻧَﺔً “Wanita
yang paling banyak barokahnya
adalah yang paling ringan
maharnya”. Akupun memilih
untuk diriku wanita yang baik
agamanya dan yang ringan
maharnya dalam rangka
mngamalkan sunnah Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam maka
Allahpun mengumpulkan bagiku
martabat, harta dan agama.” [27],
Doa merupakan senjata
terampuh untuk memperoleh
istri sholehah
Yang paling penting bagi
seseorang yang hendak
mengembara mencari pasangan
hidup adalah ia berdoa kepada
Allah, karena seperti kata pepatah
“Manusia hanya bisa berusaha
namun Allah-lah yang
menentukan, jodoh di tangan
Allah”. Diantara doa-doa yang
berkaitan dengan hal ini adalah
doa yang telah sering dibaca
yaitu,
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻲ ﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ
ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
(Ya Tuhan kami berikanlah bagi
kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat, dan
lindungilah kami dari adzab
neraka)
Ali radhiallahu ‘anhu menafsirkan
makna al-hasanah di dunia
adalah wanita sholihah dan al-
hasanah di akhirat adalah
bidadari, adapun adzab neraka
adalah wanita yang jelek
agamanya[28].
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari
Muhammad bin Ka’ab
menafsirkan ayat tersebut, beliau
berkata, ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺎﺕِ
“Wanita shalihah termasuk al-
hasanah”[29]
ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺘِﻪِ ﺗَﺘِﻢُّ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕُ
ﻭَﺻَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﺒِﻴِّﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ
ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴْﻦَ
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, 30 Maret 2005
Selesai muroja’ah kembali 3 April
2006
Disusun oleh Abu Abdil Muhsin
Firanda Andirja

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

2 tanggapan untuk "Kriteria Memilih Pasangan Hidup Menurut Islam 4"

Enjoy4u pada 21:39, 04-Mar-12

mantap

Arievk "(New-blog)" pada 22:34, 06-Mar-12

Ilmunya bermanfaat, Thanks.

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar